Login untuk memfavoritkan fatwa Bolehkah Berbicara Ketika Berwudlu?
Bolehkah berbicara ketika berwudlu?
Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:
- Tidak berbicara ketika wudlu merupakan adab dalam berwudlu. Madzhab Hanafi & Maliki
- Berbicara ketika wudlu hukumnya makruh. Pendapat dalam madzhab Maliki & pendapat yang masyhur dalam madzhab Hanbali
- Tidak berbicara ketika wudlu termasuk sunnah dalam berwudlu. Madzhab Syafi’i
Dalil
1. Pendapat yang Menyatakan Makruh
a. Hadits riwayat Daraquthni yang menyebutkan bahwa Utsman bin Affan _radliyallahu anhu_ berwudlu di Madinah kemudian ada seorang yang mengucapkan salam kepada beliau, tetapi tidak dijawab sampai selesai berwudlu, kemudia beliau berkata : Aku tidak membalas salammu tadi karena aku pernah mendengar Rasulullah _shallallahu alaihi wa sallam_ bersabda :
[1]من توضأ هكذا، ولم يتكلم، ثم قال: أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، غفر له ما … Continue reading
“Barangsiapa yang berwudlu seperti ini, dan dia tidak berbicara, kemudian berkata : _Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu la syarika lahu, wa anna muhammadan abduhu wa rasululuhu_, maka akan diampuni baginya dosa diantara dua wudlu.” [2] Sunan Daraquthni (1/92)
b. Hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, bahwasanya Muhajir bin Qunfudz berkata : Aku mengucapkan salam kepada Nabi _shallallahu alaihi wa sallam_ ketika beliau berwudlu, namun beliau tidak menjawab salamku, ketika selesai dari wudlunya beliau bersabda :
[3]لم يمنعني أن أرد عليك إلا أني كنت على غير وضوء
“Aku tidak menjawab salammu karena aku dalam keadaan tidak suci (belum berwudlu).” [4] Musnad Imam Ahmad (5/81)
c. Disebukan dalam kitab ‘Maraqi al Falah’ bahwa alasan makruhnya berbicara ketika berwudlu adalah melalaikan dari membaca doa wudlu.
d. Ada penukilan ijma’ yang disebutkan olel Al Qadli Iyadl bahwa berbicara ketika wudlu hukumnya makruh.
2. Pendapat yang Tidak Memakruhkan
a. Tidak ada dalil yang menyebutkan larangan berbicara ketika berwudlu, maka hukum asalnya adalah boleh.
b. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwasanya Ummu Hani` berkata : Aku pergi menghadap Rasulullah _shallallahu alaihi wa sallam_ di tahun penaklukan Mekah, tapi beliau sedang mandi dan Fathimah putri beliau yang menutupi, kemudian aku mengucapkan salam, maka beliau bersabda : “Siapa ini?” Aku menjawab : “Aku Ummu Hani` binti Abi Thalib.” Maka beliau bersabda :
[5]مرحبًا بأم هانئ
“Selamat datang Ummu Hani`” [6] Shahih Bukhari (357) dan Shahih Muslim (336)
Hadits ini menunjukkan bahwa beliau berbicara ketika mandi, hukum dalam berwudlu juga boleh.
Pembahasan Dalil
1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Daraquthni adalah hadits yang _dho’if jiddan_ (sangat lemah), bahkan sebagian menyebut derajatnya _maudlu’_ (palsu) [7] Majma’ Zawaid (1/545), Kanzul Ummal (9/509), Dla’if Targhib wat Tarhib (1;39)
2. Hadits Muhajir bin Qunfudz riwayat yang benar adalah dia mendatangi Rasulullah _shallallahu alaihi wa sallam_ dalam keadaan beliau sedang buang air kecil. Terlebih lagi alasan yang disebutkan oleh Rasulullah _shallallahu alaihi wa sallam_ jelas menyatakan bahwa hal itu bukan karena beliau sedang berwudlu, tetapi karena beliau belum bersuci.
3. Alasan yang disebutkan dalam Maraqi al Falah tidak bisa digunakan, karena doa dalam wudlu tidak ada _atsarnya_
4. Imam Nawawi mengomentari ijma’ yang dinukil oleh Qadli Iyadl beliau berkata :”Hukum makruh yang dinukilkan oleh beliau maksudnya adalah meninggalkan yang lebih utama, karena tidak ada dalil yang shahih tentang larangan tersebut, jadi disebut makruh maksudnya lebih baik ditinggalkan.” [8] Al Majmu’ (1/489)
Kesimpulan
Berbicara ketika wudlu hukumnya boleh dan tidak membatalkan maupun mengurangi pahala wudlu, tetapi seseorang ketika berwudlu dia sedang menjalankan ibadah yang ditentukan tatacaranya oleh Allah _subhanahu wa ta’ala_, maka akan lebih baik kalau dia tidak berbicara agar bisa berkonsentrasi pada ibadahnya.
References
| ↑1 | من توضأ هكذا، ولم يتكلم، ثم قال: أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، غفر له ما بين الوضوءين |
|---|---|
| ↑2 | Sunan Daraquthni (1/92) |
| ↑3 | لم يمنعني أن أرد عليك إلا أني كنت على غير وضوء |
| ↑4 | Musnad Imam Ahmad (5/81) |
| ↑5 | مرحبًا بأم هانئ |
| ↑6 | Shahih Bukhari (357) dan Shahih Muslim (336) |
| ↑7 | Majma’ Zawaid (1/545), Kanzul Ummal (9/509), Dla’if Targhib wat Tarhib (1;39) |
| ↑8 | Al Majmu’ (1/489) |
Apakah jawaban ini bermanfaat?
- Ya: 1 suara (100%)
- Tidak: 0 suara (0%)